Kalimantan selatan Banjarmasin
Posted by YandereRakira • 18-11-2015 22:43

Kamar mandi angker di sekolahku



Hai, aku Nia. Tapi, kamu bisa panggil aku N.
Ada suatu rahasia yang aku ingin sampaikan kepada kalian semua.

Ada sebuah rumor di sekolahku yang lumayan hangat. Ini tentang kamar mandi sekolah katanya angker. Karena aku masih newbie (anak baru), aku tidak terlalu tertarik dengan rumor itu. Ya...sampai 'pengalaman' itu terjadi kepadaku.

Pada saat kami pramuka, aku dan beberapa temanku dipilih untuk mewakili sekolah kami dalam kegiatan Persami (Perkemahan Sabtu-Minggu) sebagai tuan rumah. Tentu aku lumayan senang karena aku adalah anak tipe suka pramuka. Tetapi, Sarah (BFF-ku) memberiku pesan agar tidak memasuki kamar mandi sekolah pada saat Malam Minggu. Aku heran, kenapa dia memberi tahuku itu. Mungkin karena rumor itu? Atau yang lainnya? Biarlah, aku tidak mengindahkannya.

Hari yang kutunggu-tunggu telah tiba. Ada 4 sekolah yang berpartisipasi. Salah satu dari semua perwakilan sekolah itu menarik perhatianku. Seorang laki-laki yang berlatar belakang anak bekas sekolah ini (anak bekas: anak yang aslinya berasal dari sekolahku, tetapi dia pindah ke sekolah yang lainnya karena suatu alasan) menatapku terus-menerus sejak dia melihatku. Tentu saja, karena aku tidak nyaman, aku bertanya kepadanya.

"Hey, kenapa kau melihatku terus?" Tanyaku kepadanya saat waktu bebas.

"Eh? Karena kau mirip seseorang yang kutahu." Jawabnya pendek. Setelah itu, suasananya sunyi. Ya, karena nggak enak, aku mengajaknya bermain game.

"Bagaimana kalau kita main game saja?" Tawarku. Dia hanya mengangguk pelan. Aku tersenyum lebar dan menariknya ke lapangan yang luas. Disana, kami bermain kejar-kejaran, sandi morse dengan menggunakan senter, dan melemparkan cerita humor yang membuat kami tertawa terguling-guling mendengarnya. Setelah malam, kami kembali ke kemah masing-masing.

Pukul 10.00, aku terbangun dari tidurku. Aku menahan rasa ingin BAK (Buang Air Kecil) sejak 15 menit yang lalu. Karena tidak tahan, aku langsung lari keluar dari kemahku dan menuju ke kamar mandi sekolah. Sekilas, aku mengingat pesan dari Sarah, tetapi ingatan itu buyar saat aku memasuki kamar mandi tersebut. Aku tidak perduli saat itu juga, tetapi sifat takutku juga muncul bersamaan. Bulu kudukku berdiri saat aku keluar dari kamar mandi.

Di hadapanku, terdapat seorang remaja yang hampir sama ciri-ciri fisiknya denganku, kecuali rambutnya yang panjang, sementara rambutku sangat pendek seperti laki-laki. Dia berjalan ke arahku. Aku mencoba menghampirinya, tetapi kakiku tidak dapat digerakkan seolah melekat dengan lantai. Aku hanya menutup rapat mataku memohon keajaiban. Tapi, pundakku ditepuk-tepuk dengan lembut
seperti saat guru memujiku. Dia membisikkan sesuatu kepadaku.

"Makasih karena telah menjadi temannya yang baik dan mendampinginya juga."

Seketika itu juga, kakiku bisa digerakkan. Refleks, aku menengok kearah kiri dan kanan mencari sosok perempuan itu, tapi hasilnya nihil. Meskipun bingung, tetapi aku kembali ke kemahku dan tidur dengan pulas sampai pagi tiba.

Paginya, aku bertanya kepadanya (Si laki-laki tersebut) tentang masa sekolahnya disini.

"Oh, iya. Apakah kamu punya sahabat atau seseorang yang dekat padamu saat masih disini?" tanyaku penasaran.

Dia menundukkan kepalanya denga ekspresi yang hampir menangis. "...Ya. Itulah kenapa aku melihatmu terus. Kamu mirip dia."

Seperti dugaanku, pikirku. "Dia hampir mirip denganku, kecuali rambutnya yang panjang." Kataku dengan nada menginterogasi. "Itukah sahabatmu?"

Seakan-akan aku memarahinya, dia menangis terisak-isak. "Ini semua salahku Karena aku, dia terbunuh"

"Woah, tunggu dulu." Kataku, menenangkannya. Aku cukup kaget mendengar kata 'terbunuh', tetapi dia harus kutekan dulu. "Apa maksudmu, terbunuh?"

"So-Sonia terbunuh gara-gara dia melindungiku saat a-aku di-bully." Jawabnya terisak. "Dia tidak memaafkanku saat aku bertemu dengannya lagi"

"Nggak, kok." Aku memeluknya. "Dia bersyukur karena kau mempunyai teman baru lagi, yaitu aku."

"Be-bersyukur?" Tanyanya, mengelap air matanya yang menetes. "Kamu...bertemu dengannya?"

"Berkat rumor sekolah, aku bertemu dengannya." Aku memberi selembar tisu dari kantongku untuknya. "Sekarang, kamu harus berubah sikapmu, Loner Boy."

"Hm, aku berusaha" Dia tersenyum lebar. "Oh, namaku Sora. Kamu?"

"Nia" Aku menjulurkan tanganku untuk menawarkan salam. Tetapi, rombongan sekolahnya sudah memanggilnya dari jauh.

"Ah, selamat jalan" Dia berlari menuju kelompoknya. "Nia, aku suka kamu"

"Selamat tinggal, Sora" Sahutku dari jauh. "Dan kita masih teman, bukan lebih"

Dan itulah kisahku tentang pengalamanku tentang kejadian nyata rumor sekolah. Endingnya memang berakhir bahagia, tetapi lumayan. Daripada kalian semua nggak bisa tidur.(Nama mereka samaran semua, termasuk aku sendiri, Nia.)

Cerita ini diambil dari cerita temanku dari Jakarta, kucampur dengan sedikit fiksi.

Kesimpulan: Aku harus percaya kepada semua rumor sekolahku, ya...
© 2020 kliwon.com. All rights reserved.