Yogyakarta Kota Gede
Posted by Sershan • 30-07-2016 06:57

Tersesat di Kampung Mahluk Halus



Ini pengalaman nyata yang dialami oleh ibu mertua saya sendiri,, saya mencoba untuk berbagi disini, maaf jika tidak seram sama sekali. Untuk memudahkan, saya akan menggunakan "aku" dalam cerita ini.

Sore menjelang magrib, aku berserta suami dan anak dalam perjalanan menuju daerah Kota Gede, Yogya, untuk menemui rumah salah satu rekan usaha milik ku, waktu itu sekitar jam setengah 6 lewat ketika mobil berhenti di jalan depan gang sebuah desa, berhubung bertepatan dengan adzan magrib, jadi kami putuskan untuk berhenti menunggu adzan selesai.

Singkat cerita, setelah adzan selesai, aku turun dari mobil, jalan gang yang sempit tidak memungkinkan untuk mobil masuk, dan dikarenakan hanya aku yang tahu tempatnya, aku berjalan sendiri, sementara suami dan anak ku menunggu di mobil. Memasuki jalanan gang yang sempit, aku masih mencoba mengingat letak rumah Pak Min, karena terakhir aku berkunjung sudah sangat lama sekali. Dipersimpangan, ada pohon sawo, seingat ku ini belok ke kanan, kucoba mengikuti jalanan yang semakin lama semakin sempit. Aku hanya terus berjalan, melewati rumah-rumah dengan penerangan lampu obor dihalaman, dan sayup2 aku mendengar adzan, "Ohh sudah masuk waktu isya ternyata" tapi aku masih belum sampai tempat tujuan.

Ditengah rasa bingung, aku melihat semacam warung kecil yang hanya diterangi oleh lampu minyak dipinggir jalan, ada juga sekumpulan pemuda sedang bermain gitar, ada beberapa anak kecil sedang berlarian. Aku coba sapa salah satu, "Wes mbengi kok ijeh playon cah ayu" (Sudah malam kok masih lari2an anak cantik), anak itu hanya menjawab dengan senyuman."Ngerti omah e Pak Min ra nduk? Ibu kesasar iki koyone" (tahu rumahnya Pak Min ga nak? ibu sepertinya kesasar), anak itu hanya diam dan menunjuk ke satu arah. "Saget terke ibu cah ayu?" (Bisa antarkan ibu nak?). Anak itu hanya diam lalu menggandeng tangan ku, menuntunku.

"Walah tangan mu adem banget, kok yo dolanan mbengi ra nganggo jaket, ora nganggo sandal juga" (Walah tangan mu dingin sekali, kenapa main malam2 kok ga pakai jaket dan ga pakai sandal), itu yang spontan keluar dari mulutku ketika menggenggam tangan anak kecil itu, dan aku sama sekali tak berfikiran aneh karena melihat dengan jelas kaki anak itu menapak tanah. Seperti tadi, anak itu hanya diam, dan terus menuntunku. Aku hanya bisa mengikuti dengan bingung karena tempat yang kulewati benar2 asing, jalanan tanah yang sempit dan gelap. Ditengah perjalanan, aku melihat ada 4 galian tanah, seperti kuburan. "Kae kok ono koyo ngono, arep kanggo opo?" (Itu kok ada seperti itu mau untuk apa?). "Damel nandur pisang bu" (untuk menanam pisang bu), anak ini menjawab sambil tetap berjalan menuntunku.

Singkat cerita akhirnya dia berhenti, dan menunjuk kearah depan,"Niku dalem e Pak Min teng mriku" (Itu rumahnya Pak Min disitu), aku berjalan beberapa langkah kedepan untuk memastikan, lalu mengucapkan terima kasih, tapi anak tadi sudah tak ada, jujur pada saat ini aku sama sekali belum curiga. Aku langsung menuju rumah yang ditunjuk anak tadi, rumah yang terbuat dari ayaman bambu, khas rumah jaman dulu dengan cahaya obor dihalaman, aku ragu, sejak kapan rumah Pak Min berubah jadi begini, belum hilang rasa penasaran ku, dari dalam rumah terdengar suara berat, "Minggat soko kene, nggon mu dudu nang kene" (pergi dari sini, tempat mu bukan disini), suara itu membentak dan ntah mengapa aku mundur lalu pergi dari tempat itu. Pada saat ini aku mulai dilanda ketakutan, aku berjalan, berada seperti di suatu kampung dengan rumah2 jadul yang sama sekali asing, aku hanya bisa terus berjalan sambil terus membaca doa apapaun yang kubisa.

Ditengah kebingungan ku, aku berjumpa dengan beberapa gadis muda, mereka berpakaian ala wanita jawa kuno dan berkerudung, seperti akan ke masjid, aku hanya tersenyum sambil menyapa mereka, dan mereka hanya membalas dengan senyuman. Beberapa langkah kedepan, bertemu dengan ibu-ibu seusia ku, dengan pakaian yang sama seperti para gadis tadi, aku hanya mengira mereka akan ke masjid, dan aku pun kembali menyapa mencoba ramah dan mereka pun membalas dengan senyuman. Aku terus berjalan dengan kebingungan, hingga sayup2 aku mendengar suara adzan. Aku terdiam, bukankah tadi sudah ada adzan isya, kok sekarang adzan lagi? masih dalam kebingungan aku berusaha mengikuti dan mencari sumber suara adzan tersebut.

Aku terus berjalan, suara adzan itu makin keras terdengar hingga akhirnya aku melihat masjid dan tiba dijalan ramai lagi. Aku bertanya ke salah seorang yang kutemui, alamat rumah Pak Min, dan dimana aku sekarang. Orang tersebut menjawab jika Pak Min yang kumaksud ada di desa sebelah, dan jaraknya lumayan jauh dari tempat ku, dengan murah hati orang itu mau mengantarkan ku dan singkat cerita aku bisa kembali ke tempat dimana mobil terparkir. Mereka bertanya, kemana saja aku, kenapa hanya ketempat yang dekat saja sampai 3 jam lamanya. Aku pun menceritakan semua yang kualami kepada suami dan anak ku.

Karena penasaran, keesokan hariinya aku kembali ketempat aku tersesesat dan bersama suami, anak ku, serta Pak Min, aku tunjukan jalan yang aku lewati tadi malam. Ternyata, itu adalah jalan buntu, tembok tinggi membatasi desa ini dengan tanah kuburan disisi nya, padahal tadi malam aku jelas melihat kampung disini, dan memang hari ini akan ada pemakaman atas meninggalnya satu keluarga yang berjumlah 4 orang, itu sma persis dengan apa yang kulihat tadi malam. Tak henti2nya aku mengucap syukur kepada Tuhan YME karena aku masih bisa keluar dari tempat itu.
--SEKIAN--
© 2020 kliwon.com. All rights reserved.