Jawa barat Tol Cipularang
Posted by Kuliskil • 11-11-2017 20:19

Si Kerudung Oranye, dan Penunggu Tol Cipularang Lain



"Rumahku Istanaku" adalah sebuah ungkapan yang sering kita dengar, dan kita bisa pegang, namun bagaimana jika "istana" itu, adalah sebuah bangunan tak kasat mata, besar melampaui batas,sarang bagi berbagai mahluk tak terkira, dan oleh manusia dibangun sebuah jalan tol melaluinya?
Inilah sebuah perumpamaan yang temanku gunakan untuk menjelaskan semua keanehan yang menyelimuti ruas KM 90 hingga 100 Tol Cipularang. Ya, bukan hanya Gunung Hejo yang menjadi pusat, tapi keberadaan jalan tol itu sendiri, yang melintas memotong sebuah istana kerajaan mahluk astral, yang pada ujungnya menjadi katalis.

Pertemuanku dengan penghuni istana tersebut terjadi seminggu lalu, saat aku harus kembali ke Bandung setelah menghabiskan akhir pekan dirumah kakekku di Jakarta. Saat itu hari minggu, hari sudah malam ketika aku berangkat menaiki bus travel terakhir pada jam 21:30. Tidak ada perasaan apa-apa, kecuali suasana malam Jakarta yang panas, dan tidak sabar untuk segera kembali ke hawa dingin Bandung.
Awalnya aku duduk ditengah, namun, aku masih ada kerjaan dan tidak enak jika harus sering membuka laptop dan membuat silau penumpang di kanan dan kiriku. Aku pun pindah kekursi samping supir yang kosong, dan bis tak lama kemudian berangkat ketika sang supir, dengan tampang letih setelah seharian berkendara, duduk di kemudi di sampingku.

Malam itu cukup ramai dengan arus balik ke Bandung, dan aku membuka pembicaraan dengan pak supir, untuk mencari teman ngobrol dan agar kami berdua tidak terlalu mengantuk. Pak Zupir (bukan nama asli) ternyata sudah bekerja lebih dari 10 tahun menjadi supir. Berbagai pekerjaan di darat dan laut sudah dilaluinya sebelum dia merantau ke Bandung, meninggalkan keluarga di Jawa Tengah, untuk mencari pekerjaan lebih baik setelah gempa menutup pekerjaan lamanya. Dari situlah obrolan kami mengalir, dan saya menjadi terinspirasi dari kegigihannya.

Banyak asam garam kehidupan sudah dilaluinya, dan pengalamannya pun banyak. Namun, saya tak menduga bahwa saya sendiri juga akan menemui pengalaman supranatural baru, yang Pak Zupir dan kawan-kawan supirnya sendiri sering alami di arus tol ini.

3 Jam setelah perjalanan, kami baru saja keluar dari rest area, dan telah beristirahat. Aku berbagi sebungkus gorengan yang kubeli dengan Pak Zupir, mengingat ceritanya bahwa dia nyaris belum makan hari ini. Perlahan, rambu menunjukkan bahwa kami sudah memasuki KM ke 90, dan terus bergulir. Saat itu tak kurasakan apa apa, tapi aku naif, tidak seperti Pak Zupir yang mengenal jalan.

Kira-kira pada KM 96, keadaan cukup ramai dipenuhi beberapa truk gandeng yang berjalan relatif lamban. Setelah sempat tertahan oleh perbaikan jalan di kilometer-kilometer sebelumnya, Pak Zupir memang memacu mobil untuk mengganti waktu yang hilang. Berpindahlah mobil ke jalur tengah, menghindari truk-truk di jalur kanan. Dan disanalah, dipinggir jalan gelap itu, aku melihatnya, si Kerudung Oranye.

Dari jauh, aku tak terlalu memperhatikan jalan, mengingat laptop kubuka dan mencicil tugas. Namun, tak sengaja kupalingkan kepala sebentar dan melihat kedepan. Sebuah sosok, bewarna serba oranye berdiri di sisi kiri jalan, tepat dibelakang pagar pembatas. Awalnya, kukira dia hanyalah rambu jalan, namun meter demi meter mobil mulai mendekat ke posisinya, dan bentuknya semakin jelas. Jika kuperkirakan, bagi ukuran manusia, sosok ini mungkin lumayan tinggi. Bentuknya benar-benar menyerupai wanita dewasa, mengenakan sebuah kerudung oranye panjang yang menutupi tubuh atasnya. Tentu, akan kukira itu sebagai manusia, jika bukan waktu yang aneh bagi seorang ibu-ibu untuk berada di sisi jalan tol pada malam hari, dan juga karena satu detail penting.

Si Kerudung Oranye, tampak tak berwajah.

Tetap kuperhatikan sosok bermuka kabur tersebut, selama dua detik dari pertama kali ku melihatnya dari kejauhan, hingga ketika mobil terus melaju melaluinya. Aku segera memalingkan wajah ke Pak Zupir, yang juga baru kembali melihat jalan kembali, seakan habis menoleh juga. Segera kutanya, apakah dia juga melihat sosok tersebut?. Dengan berat hati Pak Zupir pun mengiyakan dan mengkonfirmasi bahwa wajah sang sosok itu memang kosong.

Pak Zupir awalnya memang enggan mengaku, bukan karena takut, tapi khawatir saya menjadi panik. Jujur, sebagai pengalaman pertamaku terhadap fenomena misteri, aku masih tak percaya dan berusaha menganggap hal tadi sebagai salah lihat atau kantuk karena <i>betapa janggalnya</i> sosok tersebut. Namun, hal itu juga yang membuka keran dalam topik pembicaraan kami, dan mulai masuk ke fenomena paranormal.


Malam itu bukan saat pertama rupanya Pak Zupir pernah melihat si Kerudung Oranye, sebuah sosok yang ternyata pernah dilihat dirinya dan kawan-kawan sesama sopir di wilayah tersebut. Bahkan ada yang pernah melihat Kerudung Oranye disisi kanan, atau bahkan ditengah jalan Seakan ingin menyebrang, sosok itu melayang rendah dan melintasi jalan dengan cepat, mengagetkan supir yang menyetir malam. Ya, sebagai mantan supir rute Bandara-Bandung, perjalanan yang ditempuh dulu tentu lebih malam lagi, hingga lewat jam 12 malam.

Bahkan Pak Zupir menceritakan bagaimana 6 Tahun lalu, tahun 2011, ketika dia dan seorang penumpang berkendara menuju Bandara pada tengah malam, ketika dia pertama kali melihat si Kerudung Oranye. Kejadianya sama, si sosok berdiri di pinggir jalan, namun dulu didepan pagar pembatas. Pak Zupir tidak memberitahu si penumpang agar tidak panik, namun ketika sang penumpang tiba-tiba meminta mobil menepi di rest area untuk istirahat sebentar, barulah si penumpang menceritakan sosok yang sama seperti yang Pak Zupir, walau dia tidak pernah mengaku. Bahkan ketika mencoba merasionalkan sosok tersebut, sang penumpang semakin bersikeras bahwa dengan wajah kosongnya, tak mungkin sosok itu adalah manusia. Namun, <i>kicker</i> sebenarnya adalah, ketika esok hari, pada shift pagi, Pak Zupir mengetahui bahwa lokasi dia melihat Kerudung Oranye, adalah tempat kecelakaan naas yang pada saat itu, baru saja menimpa istri baru seorang artis ternama.

Pak Zupir beranggapan, bahwa Kerudung Oranye adalah pertanda atau bahkan penyebab kecelakaan itu, dan keputusan istri sang artis untuk melepas jilbabnya adalah penyebabnya.

Pengalaman lain segera diceritakannya, bagaimana Pak Zupir dulu pernah hanya mengantarkan satu penumpang lagi dalam sebuah perjalanan malam dari Bandara menuju Bandung, dan dijalan tol mobil terasa berat. Menengok di spion, tampak dua lelaki besar duduk di kursi paling belakang. Karena gelap, kedua siluet tersebut tak terlihat jelas dan dikiranya penumpang yang salah masuk mobil. Mencoba menegur mereka, tak dijawab, karena disangka tidur. Menelpon kantor di bandara, mengiyakan bahwa mobil hanya seharusnya membawa satu orang. Namun, ketika lampu dinyalakan ketika berhenti rest area terdekat, kedua siluet itu langsung menghilang. Pak Zupir beranggapan bahwa mereka adalah genderuwo.

Pengalaman paling menyeramkan baginya, terjadi 4 tahun lalu, ketika membawa mobil menuju Bandung. Sama, saat itu tengah malam dan dikira hanya mengantar satu penumpang. Baru pulang dari perjalanan, tentu sang penumpang yang duduk dibelakang pada tertidur. Namun, tiba-tiba, masuk KM 90, tampak ada penumpang bangun dan mengajak Pak Zupir mengobrol. Penumpang yang duduk disamping pintu, dideretan tepat dibelakang supir ini, yang Pak Zupir lihat melalui pinggir matanya saja (sebab dia konsentrasi ke jalan) adalah seorang wanita cantik. Suaranya lirih, dan menanyakan seputar keluarga Pak Zupir dengan bahasa Sunda halus. Perjalanan berjalan mulus, hingga ketika mobil mendekati batu kepala harimau, di KM 99.

Menjelang batu kepala harimau, tiba-tiba sang penumpang meminta untuk diturunkan disana. Pak Zupir kontan menolak dan mencoba membujuk, namun sang penumpang wanita menenangkan bahwa sudah ada temannya yang menunggu. Seakan terhipnotis, Pak Zupir meminggirkan mobil di dekat batu, namun tetap berkeinginan untuk tetap membujuk sang penumpang untuk tetap di minibus. Wanita itupun berpesan dalam bahasa sunda,"Jagalah anak-anakmu, sebab mereka adalah titipan tuhan" sebelum terdengar suara pintu dibuka dan tampaknya turun.

Pak Zupir menoleh kebelakang dan mendapati kursi telah kosong, segera turun untuk menunggu bersama karena belum ada mobil atau teman sang wanita ketika mereka menepi tadi. Namun, dalam 3 detik dari Pak Zupir membuka pintu, berjalan memutari mobil, dan sampai di sisi pintu penumpang, sang wanita telah raib.

Tidak mungkin, seorang manusia bisa langsung menghilang sebegitu cepat. Jika menyebrang, pasti terlihat oleh Pak Zupir ketika memutari mobil. Jika memanjat pagar pembatas, pasti masih terlihat ketika memanjat parit atau bukit rumput diluar jalan. Jika dijemput teman dalam mobil juga tidak mungkin sebab tidak ada mobil yang ikut menepi. Jika sembunyi di kolong mobilpun tidak ditemukan. Tinggallah Pak Zupir sendirian sendirian diluar mobil, ketika sang penumpang pria yang masih didalam mobil mengetuk jendela dan menanyakan ada apa. Ketika dijawab bahwa ada penumpang wanita yang turun, sontak penumpang pria yang duduk dibelakang ini berkata "Lah, kan penumpangnya cuma saya sendiri pak?". Sontak kaget Pak Zupir, dan segera menelpon markas, dan benar dikonfirmasi bahwa hanya ada satu penumpang malam itu, dan itu seorang pria Pak Zupir hanya bisa mengelus dada karena untung sang penumpang wanita itu sangat sopan dan memberi wejangan yang terus dipegang Pak Zupir hingga saat ini, yaitu untuk bekerja keras demi anak dikampung halaman.

Tak terbayang jika sang penumpang wanita tadi rupanya berniat jahat. Tentu amat mudah bagi mahluk tersebut untuk menyeruak dan mengubah setir atau kopling dengan kemampuannya.

Pak Zupir juga menceritakan bagaimana kawannya pernah membawa mobil kosong lewat tengah malam dengan santai ketika tape lagu mobil tiba-tiba rusak. Ketika menepi dan menyalakan lampu, langsung tiba-tiba mobil menjadi penuh dengan "penumpang" berdarah-darah dan termutilasi. Berteriak dan pingsanlah sang kawan supir tersebut. Ketika ditemukan dalam mobilnya yang masih menyala mesin dan lampunya oleh supir lain, sang kawan itu masih tak bisa dibangunkan. Barulah setelah dikonvoi mobilnya ke Bandung, dan didoakan oleh orang pintar, si kawan itu bangun dan menceritakan pengalamannya. Pak Zupir menjadi saksi ketika mobil itu dibersihkan, dan oleh office boy ditemukan banyak bunga melati dibawah kursi mobil yang tadi kosong tersebut. Sang kawan menolak membawa mobil di malam hari lagi, dan kemudian keluar untuk kembali ke kampung halaman, untuk "membersihkan diri". Jika kita hitung saja ada berapa kecelakaan diruas tol tersebut, maka pasti jumlah korban akan lebih dari cukup untuk menempati sebuah mobil minibus travel. Memang, secara geografis, jalanan berputar dan kabut pasti berkontribusi, tapi melihat angka yang tinggi, entah ada faktor tak kasat mata lain yang berperan.

Singkat cerita, perjalanan saya akhirnya berakhir. Pamitlah dan berterima kasihlah saya kepada Pak Zupir untuk menemani saya malam itu. Esoknya, jujur saya sempat menunggu berita, was-was akan terjadi kecelakaan lagi diruas tempat Kerudung Oranye saya lihat sekelibat, namun untungnya tak terjadi apa-apa. Barulah pada malamnya saya bertukar cerita dengan kawan saya yang "mampu" melihat. Dari dialah saya dapat cerita dan gambaran akan kerajaan besar jin tersebut, yang terbelah sebagian oleh ruas Tol Cipularang dan bagaimana mahluk-mahluk disana memang suka iseng untuk menyebabkan kekacauan bagi mobil-mobil di jalan, guna menawan penghuni baru untuk kerajaan tak kasat mata tersebut.

Akankah hal ini mengurangi minat saya untuk tidak melewati jalan ini pada malam hari? Tentu tidak, namun, peringatan jelas terdapat dalam cerita ini, bahwa saya harus tetap berhati-hati akan hal-hal yang tidak saya ketahui.
((Maaf ceritanya rada panjang ya guys, hehe, tapi emang banyak banget yang diomongin malem itu))


© 2020 kliwon.com. All rights reserved.