Posted by mbaevi • 03-01-2021 07:02

Misteri suara tanpa wujud



Malam itu pekat tak berbintang, hujan sejak sore sudah mulai sedikit reda, menyisakan gerimis halus ... membawa kesejukan. Namun, membuat sekujur tubuh merinding juga.

Bagaimana tidak, aku hanya sendirian di rumah kala itu. Ayah dan ibu sedang ke luar kota menjenguk kakak yang habis lahiran. Kebetulan aku tak ikut, karena sering mabuk darat juga karena perjalanan ke rumah saudariku itu terbilang cukup memakan waktu lama. Bisa pegal pinggangku kelamaan duduk dalam mobil.

Malam itu, lepas makan semangkuk indomie kaldu dicampur cabe lima biji plus perasan jeruk nipis sebelah, cukup membuat badan sedikit hangat. Makanan penggugah selera itu selalu menjadi makanan pengusir dingin kala malam tiba dengan segudang hawa dingin yang mencekam.

Musim hujan selalu membawa berkah bagi Mpok Iin, penjual indomie langgananku di sudut jalan depan. Stok jualannya selalu laris olehku, pecinta mie kaldu.

Setelah habis melahap semangkuk makanan andalan, segera bergegas ke ruang belakang rumah. Dapur maksudnya. Membawa mangkuk ke wastafel dapur, mencucinya dengan beberapa perabot yang tadi kupakai memasak.

Suara keran air mengisi keheningan dapur, air mengucur pelan membasuh semua perabotan yang terlebih dulu sudah kusabuni. Lalu meletakkannya di dalam keranjang tempat menitiskan sisa-sisa air bilasan.

Aku tak menyadari seiring dengan bunyi air keran ternyata ada suara lain yang ikut memecah hening. Bulu kudukku tiba-tiba merinding, tetapi kupikir itu hanya desir angin yang masuk di celah-celah ventilasi.

Setelah menyelesaikan aktifitas mencuci piring dan teman-temannya. Aku segera mematikan keran dan ke luar dari ruang dapur. Mumpung sendiri, tak lupa kuraih toples cemilan di atas meja dapur. Berisi kerupuk bawang kiriman saudara-kakak laki-lakiku dari pulau seberang.

Melangkah menuju ruang tengah, tetiba aku mendengar suara dengkuran! Aku menoleh ke belakang, ishh ... suara siapa itu? Bukankah aku cuma sendiri di rumah? Tak habis pikir, kembali kulangkahkan kaki.

Suara itu terdengar lagi, mungkin gesekan sendal jepitku di lantai yang mengeluarkan bunyi itu. Toh tadi waktu menoleh ke belakang tak ada apapun yang mencurigakan. Jendela dan pintu telah kututup rapat, malah sudah kukunci dobel. Biar lebih aman!

Aku tak menghiraukan bunyi-bunyi itu lagi, masa bodoh! Masa aku harus takut? Ini kan rumahku? Lagi pula itu cuma suara gesekan sendal bertemu lantai, kenapa pula harus membuatku takut? Iya gak?

Kulirik jam di dinding, di sana tertera pukul 20.30 WITA, ah masih terlalu dini buat masuk kamar. Mending cari hiburan dulu, kuraih remote TV menyalakan benda pipih berukuran besar itu. Mencari channel sinetron favorit, ah kebetulan lagi iklan.

Sengaja volume TV kubesarin, biar hilang rasa takut yang mengundang itu. Namun, ada yang aneh kurasa. Suara dengkuran itu masih saja bisa kudengar, meski volume TV sudah kubesarin.

Wah, ini tak bisa kudiamkan begitu saja. Kukecilin suara TV, bahkan hampir tak terdengar. Menajamkan indra pendengaran, mencoba mendengar dan melacak sumber suara mirip dengkuran itu. Sekaligus mencoba meredam rasa takut, semoga bukan hal-hal mistis, harapku.

Nah! Suara itu kembali terdengar. Kutelisik penjuru rumah, nihil! Tak ada siapa pun. Gemas rasa hati ini, tak sadar akhirnya kukeluarkan suara.

"Siapa itu!"

Tak ada jawaban, hening seperti biasa. Hanya suaraku yang memantul di dinding rumah, apakah aku berhalusinasi? Entah. Suara itu terdengar jelas, tetapi tak berwujud. Sayangnya, aku tak punya indra keenam yang bisa melihat makhluk tak kasat mata itu.

Kunyalakan saklar lampu utama, ruangan seketika terang benderang. Cuma ada aku mematung di dekat tombol saklar lampu, di depan, di belakang, di samping, tak ada siapa-siapa kecuali aku sendiri!

Daripada terpenjara oleh ketakutan sendiri akhirnya TV kumatikan saja sekalian agar dapat kucermati suara itu berasal dari mana. Kututup rapat toples camilanku yang terbiar di atas meja. Kuputuskan masuk ke kamar saja, setelah terlebih dahulu mematikan lampu saklar utama. Setidaknya di dalam kamar, ada rasa aman yang terasa.

Aku lalu merapal ayat kursi. Subehanallah. Suara mirip dengkuran itu tak lagi terdengar, entah itu tadi hanya sebuah ilusi atau hanya sebuah suara di alam bawah sadarku atau apa, aku tak mau tahu lagi. Setidaknya, dengan berbekal keyakinan hanya kepada Allah semata itulah yang membuatku yakin dan berani.

Di dalam kamar, kuraih ponsel di atas nakas. Kucari nama ayahku dan langsung menghubunginya. Bukan hendak melaporkan keganjilan yang kurasakan, tetapi ingin mengetahui kabar mereka di sana. Panggilan itu pun tersambung.

Setelah berbalas salam, aku pun ke pokok tanya. " Ayah, gimana keadaan kak Aty? Kalian di sana, baik-baik saja, 'kan?"

"Iya, alhamdulillah. Kami semua di sini baik-baik saja, kamu di rumah gimana? Tidak takut sendiri, 'kan?"

"Tidak kok, Yah. Ini sudah di kamar, mau tidur. Salam buat semuanya ya, Yah?"

Kuakhiri percakapan via ponsel itu dengan salam. Tak lupa tadi ayah mengingatkan untuk membaca doa agar tidur tidak terganggu.

Alhamdulillah, hingga pagi menjelang, tak ada suara-suara yang kudengar menganggu itu lagi. Sebelum tidur kubaca surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan surah An-Naas sebanyak tiga kali. Lalu, setelahnya membaca ayat kursi, dengan mengulang tiga kali pada bacaan akhirnya. Kemudian, tak lupa membaca doa tidur dan menyapu seluruh badan.

Tak lupa pada malam selanjutnya, setelah sholat Isya, kulantunkan ayat-ayat Al-qur'an, selembar demi selembar. Menambah sugesti keberanianku akan sesuatu yang berbau mistis.

Itulah yang membuatku berani tinggal di rumah, meski sendiri. Berani tidur sendiri, tanpa takut dengan apapun, karena aku hanya berserah diri pada Sang Ilahi, pencipta semesta alam.

Podcast episode
© 2020 kliwon.com. All rights reserved.