Kalimantan selatan banjarmasin
Posted by ihsan • 17-04-2016 10:27

Kakak



Kakakku selalu menjerit di tengah malam. Menjerit dengan suara yang bisa membekukan aliran darahmu. Dan aku tidak bisa membuatnya berhenti menjerit.

Aku berbaring di kasurku, melayang jauh dari dunia, terbungkus dalam kabut mimpi, dan jeritannya selalu memaksa masuk kedalamnya. Dia menangisiku, dia menangis untuk seseorang.

Aku tidak bisa menolongnya, tidak ada yang bisa kulakukan untuk membuatnya berhenti.

Pada suatu saat, aku membawakannya seikat bunga lavender segar. Berharap wangi bunga dapat menenangkannya.

Mataku mulai menutup dan perlahan aku terbang dari bumi.

Tapi kakakku mulai menjerit lagi.

Apa yang bisa kulakukan kak? Kenapa kamu selalu menjerit? Apa yang menakutimu? Kenapa kamu tidak memberitahuku, aku tidak bisa menolongmu.

Pada suatu malam, kakakku menjerit lebih kencang dari sebelumnya, aku bangun. Aku akan membuatnya berhenti menjerit.

Aku berjalan ke tempatnya berbaring, dan berlutut tepat disampingnya.

Berhentilah menjerit, BERHENTILAH MENJERIT.

Aku melihat kearahnya, tetapi aku tidak bisa melihatnya. Gelap, dan ada jarak diantara kami.

BERHENTILAH MENJERIT.

Dia berhenti menjerit, tapi ia berhenti karena ia menyadari seseorang datang.

Dia sekarang terdiam, dia tidak ingin orang lain tahu dia disana.

Ibuku, menyuruhku untuk kembali tidur. Aku harus berhenti mendatangi kakakku setiap malam.

Ibu, kenapa kamu tidak mendengar jeritannya?

Ibuku tidak mendengarnya, hanya aku yang mendengarnya.

Kakakku pura2 tertidur.

Aku bangkit.

Bajuku kotor oleh tanah karena aku berlutut disamping kuburan kakakku.

Dia berbaring di dalam peti matinya. Mati tetapi masih menjerit.
© 2020 kliwon.com. All rights reserved.